Mebel Ukiran Jepara Sudah Ada Sejak Zaman Majapahit

Mebel ukiran jepara sudah ada sejak jaman kerajaan dahulu, jadi sudah kebayang kan berapa lama. Mebel ukiran jepara memang sudah mendarahdaging di setiap sendi sendi kehidupan masyarakat jepara umumnya dan perajin mebel jepara khususnya. Mebel ukir memiliki cerita yang cukup panjang dan melegenda di benak warga jepara. Jadi ceritanya pada zaman majapahit dahulu ada seorang pemuda yang sangat pandai dalam hal seni ukiran, pemuda itu sangat terkenal sampai ke pelosok negeri, kabar itupun sampai juga ke telinga sang raja. Pada suatu hari sang raja memanggil pemuda tersebut menghadap ke istana untuk menemui sang raja untuk di berikan sebuah tugas besar. Singkat cerita sang pemuda sudah menjalankan tugasnya dan ada sedikit kesalahan yang menyebabkan sang raja murka, kemudian pemuda itu dibuang dan terdampar di jepara.

mebel ukiran jepara

Mebel Ukiran Jepara

Mebel ukiran jepara sudah terkenal sampai ke pelosok Indonesia, maka tidak berlebihan jika jepara di juluki kota ukir. Mebel ukiran jepara sudah menjada sumber utama mata pencaharian masyarakat jepara, karena hampir sebagian besar masyarakat jepara berprofesi sebagai perajin mebel jepara dan usaha lain yang masih berhubungan dengan mebel tersebut, seperti halnya penjual atau broker kayu, pengusaha biro jasa pengiriman mebel, toko toko yang menjual alat alat mebel, toko yang menjual bahan finising mebel dan lain sebagainya.

Mebel ukiran jepara sebagian besar dipasarkan di kota kota besar di Indonesia, kawasan jabodetabek adalah tujuan utama pemasaran mebel ukiran jepara. Disamping itu kota kota di luar jawa juga sangat tinggi akan permintaan mebel ukir ini. Perkembangan teknologi internet juga ikut serta dalam memajukan jangkauan pasar mebel jepara. Hal ini tentu saja sangat positif bagi para perajin itu sendiri, sebelumnya biaya yang harus dikeluarkan untuk pemasaran sangatlah tinggi, seperti halnya pameran, berapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk menyewa stan dan pegawainya, tentu saja sangat jauh jika dibandingkan dengan promosi melalui media online, bahkan ada sebagian perajin yang hanya mengandalkan media social untuk pemasaran barang, dan nyatanya memang laku juga.